Sunday, September 21, 2014

Short Story: Relationship Phobia

Santi, seorang perempuan berusia 16 tahun yang memiliki rambut kecoklatan sebahu, sedang mencuci piring pada suatu malam. Seusai mencuci piring, Santi memasukkan peralatan makan yang sudah dicuci sebelumnya ke dalam rak.
PRANG!
Gelas kesayangannya jatuh dan pecah. Padahal itu adalah gelas yang pernah dipakai pacarnya, Rian, saat berkunjung ke rumah Santi.

Perasaan Santi mulai tak karuan. Santi berjalan bolak-balik, berputar-putar, tapi tidak tau apa yang harus dikerjakan. Santi gelisah. Panik. Dilihatnya jam dinding di ruang keluarga. Pukul 6 lewat, sore hari. Jam Rian pulang dari tempat lesnya tiap Sabtu.
Rian, Rian, Rian. Bagaimana kabarnya? Dia belum menghubungi Santi sore itu. Wajar memang, karena Rian adalah orang yang serius saat belajar, sehingga ponsel Rian selalu dibiarkan 'menganggur' di dalam tas setiap jam pelajaran, baik saat sekolah maupun saat les. Dan biasanya, Rian baru menghubungi Santi lagi setelah Rian sampai di rumah.
Tapi Santi, yang saat itu dadanya berdebar keras dan cepat, merasa kesulitan dalam menenangkan diri. Rian pasti masih di jalan. Santi terus berusaha tenang sambil meneruskan pekerjaannya merapikan peralatan makan, walau matanya terus beralih ke ponselnya, berharap benda itu berdering tanda Rian menghubunginya.
Akhirnya, Santi berhasil menyelasikan pekerjaannya. Diraihnya ponselnya dengan tangan yang bergetar. Detik demi detik berlalu, walau terasa sudah bermenit-menit.
Santi tidak tahan lagi. Santi akan menghentikan penungguan dan kekhawatirannya dengan menghubungi Rian langsung.
Terdengar nada sambung.
Suara apa itu? Rian?
"Halo?" ucap Santi.
Oh, ternyata masih nada sambung. Kekhawatiran Santi membuat Santi mendengar nada sambung itu sebagai suara Rian. Santi makin panik, walau sedikit bercampur malu karena salah dengar.
Ada suara lagi. "Halo?" panggil Santi.
"Halo, Santi?" Kali ini benar-benar suara Rian.
"Rian, kamu di mana?" tanya Santi to the point.
"Aku di jalan, kenapa?"
"Nggak tau, perasaanku nggak enak An...," ujar Santi perlahan sambil menghela napas.
"Tenang, Santi. Aku nggak apa-apa kok. Jangan panik gitu. Nih, aku jawab teleponmu kan?" ucap Rian tenang diselengi tawa khasnya yang secara sengaja dikeluarkannya untuk membuat Santi tenang. Dan, ya, itu berhasil membuat Santi lebih lega. "Udah ya, nanti lagi. Aku pulang dulu."
"I....."
CKITTTT..... BRAK!
"Rian, RIAN!?" Belum sempat Santi mengatakan kata 'iya', terdengar suara tabrakan yang keras. Karena itulah Santi berteriak memanggil nama pacarnya itu. Setelahnya, terdengar suara seperti bunyi terbanting persis di telinga Santi, bersamaan dengan terputusnya telepon Rian.
Pandangan Santi mengabur.
Santi jatuh.
Lalu semuanya menjadi gelap.
...
Hal pertama yang diingat Santi saat dia terbangun dari pingsan-dua-harinya adalah Rian. Lalu, Santi tidak ingat apa-apa lagi setelah mendapati dirinya di depan sebuah batu nisan bertuliskan nama pacarnya yang sangat disayanginya terbsebut.
Saat air mata mulai menetes dari matanya, Santi menggigit bibinya dalam kebisuan. Dadanya terasa hangat karena rasa sayangnya pada Rian. Ada pula rasa rindu. Juga penyesalan. Andai dia tidak menghubungi Rian waktu itu....
Firasat yang didapatnya bukanlah firasat bahwa telah terjadi sesuatu pada Rian, tapi firasat bahwa Rian akan segera meninggalkannya.
Memang itu layaknya perpisahan, saat-saat terakhir Santi mengontak Rian. Tapi yang Santi tau adalah bahwa dialah yang membunuh Rian. Dan satu-satunya hal yang terukir di hatinya adalah rasa takut. Sehingga sejak saat itu, Santi tidak lagi berani memiliki hubungan dengan lelaki manapun....
...

No comments:

Post a Comment

Doodle Days 150617

Snow White and the seven dwarfs But I'm not sure who's the Snow White And maybe the dwarfs are princesses, too Who knows? =====...